Museum dan eksistensi


Kata seseorang "Apapun yang bisa kamu bayangkan itu adalah nyata"

Sudah lama saya gak mengunjungi museum. Kata Rizki Kharina kalau saya ke Jakarta, Museum MACAN menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi. 
Pada tanggal 26 Desember 2017 saya pergi ke sana. Dibesarkan oleh euforia di social media museum ini ramai dikunjungi.

Ternyata meskipun sudah datang cukup pagi tidak membebaskan saya dari antrian yang panjang untuk membeli tiket. Sebenarnya tiket bisa dibeli secara online lewat website mereka. Akhirnya sambil tetap antri saya mencoba membeli tiket secara online karena tadi pagi waktu mencoba belum bisa, ada error di websitenya.

Berhasil. Ternyata tiket online sudah bisa dibeli secara online. Saya dapat jadwal masuk jam 2 siang. ada banyak waktu untuk menunggu. Antrian semakin lama semakin ramai. Terlihat banyak anak muda yang menunjukkan apresiasi mereka terhadap karya seni yang dipamerkan di museum ini. Biasanya museum adalah tempat membosankan tetapi museum MACAN terlihat sangat kekinian berisikan kaum muda. 

Saya kagum dengan mereka yang mau mengapresiasi seni di zaman modern serba digital dan semua informasi bisa Anda dapatkan dengan mudah pada gadget. Kita gak perlu lagi ke museum untuk mengetahui sejarah atau melihat karya seni, kita bahkan bisa memiliki karya seni tersebut dalam bentuk digital, kecuali karya seni yang berbentuk tidak hanya visual.



Eksistensi

Social media menjawab salah satu ketakutan manusia. Eksistensi. 
Tentu ada beberapa jenis manusia yang ingin diakui keberadaannya. Apa yang telah kita kerjakan? Siapa kita? Kita ingin orang lain mengenal kita. Melalui social media kita bisa mendapatkan hal tersebut.

Kata orang kalau kita tidak mengikuti perkembangan zaman maka kita akan tertinggal. Mengingat bagaimana raksasa komputer IBM yang saat ini tidak dikenal lagi oleh generasi baru atau Nokia ponsel kekinian di zamannya ditinggalkan membenarkan statement tersebut. Saat ini kita harus terikat dengan era digital. Apa saja serba digital, dari mulai transportasi, belanja, sampai pesan makanan pun bisa dilakukan hanya dengan jempol saja.  Tentu harus ada perangkat dan terhubung dengan internet juga ya.

Apapun yang tidak bisa berbaur, beradaptasi dengan perubahan sepertinya akan punah. Seperti itu pula museum. Zaman dulu museum bukanlah tempat yang ramai dikunjungi. Memang ada beberapa museum yang menjadi favorit orang-orang, karena memang tempatnya bagus, koleksisnya lengkap, dan juga terawat. Banyak museum yang tidak dirawat dengan baik, barang-barangnya replika dan tempatnya kurang nyaman untuk dikunjungi.

Akhir-akhir ini peminat seni semakin banyak. Mungkin sebanyak anak muda yang dapat menikmatinya. Sejak era digital menjadi trend banyak instalasi seni dan galeri seni mulai dilirik orang. Saya rasa seni rupa akhirnya menemukan frekuensi yang selaras dengan zaman now.
Anggaplah saya benar namun ada juga orang yang datang bukan untuk menikmati karya seni tetapi untuk berswafoto. Beberapa orang bahkan saking penasarannya mereka mencoba menyentuh karya seni yang sudah susah payah dibuat tersebut. 



Digital Marketing

Ada banyak sekali pengguna social media saat ini di Indonesia kalau tidak percaya silahkan Googling. Social media menjadi sebuah lahan baru untuk promosi, sosialiasi, dan si si lainnya termasuk mencari JoSi alias jodoh untuk diri sendiri, hmm kayaknya agak maksa ya? 
Banyak campaign dan promo yang dilakukan di internet. Sehingga apapun menjadi tampak kekinian ketika hal tersebut viral di internet.

Sejak kemunculan istilah instagramable banyak sekali cafe yang membuat interiornya mengikuti selera pasar agar terlihat instagramable. Begitu juga dengan tujuan wisata yang merias diri mereka agar saat orang berfoto di sana kemudian di-share di instagram mereka lalu menjadi viral.
Kata instagramable ini menjadi kunci keberhasilan agar Anda bisa eksis di Social media khususnya instagram.

Pun dengan Museum MACAN dengan adanya instagram mereka berhasil menarik anak muda untuk datang melihat karya Raden Saleh dan yang lebih menariknya lagi kami yang datang hampir semuanya memiliki satu tujuan yang sama yaitu masuk dan berfoto di Infinity room. Sebuah karya dari Yayoi Kusama.


Saya juga mengambil kesempatan untuk berfoto di dalam Infinity room



Membuat segala sesuatunya menjadi kekinian seperti adalah hal yang harus dilakukan agar apa yang kita jual bisa laku di pasar. Bukan saja kebutuhan dan kemewahan tetapi apakah barang/hal tersebut dapat membuat seseorang kekinian juga penting.

Bagaimana Museum MACAN mengemas segala sesuatunya menjadi digemari dan memberikan pengalaman yang bukan hanya sekadar pergi ke Museum dan melihat barang antik atau karya seni adalah sebuah cara yang patut diacungi jempol karena tentu saja pada era digital ini melihat karya seni lebih mudah melalui Google ketimbang membayar 50k, datang dan antri untuk sebuah lukisan yang mungkin ketika pulang akan terlupakan.

Meskipun dengan eksistensi kita tidak dapat bahagia dan justru kadang terjerat dalam permainannya sehingga membuat kita lupa menikmati kehidupan.

Comments

Post a Comment