Review film: Headshot (2016)


Film ini adalah film paling brutal tahun ini menurut majalah Rolling Stone Indonesia.
Dibintangi oleh Iko Uwais, Julie Estelle, dan Chelsea Islan film ini akan memuaskan penikmat film slasher di Indonesia.

The Mo Brothers duo yang terkenal suka membuat film slasher Rumah Dara (2010) dan Killers (2014). Pada tahun ini mengeluarkan satu film lagi dengan genre yang sama. 

Menggaet aktor laga Iko Uwais film ini menjadi salah satu film yang ditunggu oleh penikmat film dengan genre slasher di Indonesia.

Ini adalah film Indonesia pertama Iko Uwais yang bukan arahan sutradara Gareth Evans. Film kedua Julie Estelle bersama The Mo Brothers setelah Rumah Dara, dan film pertama Chelsea Islan yang bergenre slasher.

Hadirnya aktor Bront Palarae tidak saya ketahui sebelumnya. Juga adanya Ario Bayu yang tidak diduga muncul pada bagian terakhir. 
Karakter Bront dan Ario memang bukanlah inti dari film ini tetapi cukup memberikan angin segar saat melihat aktor-aktor ganteng ini.

Sejak awal film ini sudah menghadirkan ketegangan. Darah dan kekejaman banyak ditunjukkan. Tanpa banyak dialog dan drama film ini mengarahkan penonton untuk terus bergidik ngeri melihat aksi pembantaian demi pembantaian.

Bercerita tentang Abdi (Iko Uwais) yang terdampar di pantai dan ditemukan oleh Romli (Epy Kusnandar) kemudian dibawa ke rumah sakit dan dirawat oleh dr. Ailin (Chelsea Islan). 

Lupa ingatan yang dialami Abdi membuatnya tidak mengetahui siapa namanya, kemudian Ailin memberikannya nama Ishmael seperti karakter fiksi pada buku Moby Dick.

Abdi/Ishmael yang sebelumnya adalah anggota gengster kelas kakap yang dipimpin oleh bos bernama Lee (Sunny Pang). 

Ingin keluar dari gangster tersebut, Abdi/Ishmael mengkhianati bosnya. Hal ini yang membuatnya dicari-cari oleh kawanan gengster itu sehingga menyebabkan Ailin harus terseret dalam masa lalu Abdi/Ishmael.

Julie Estelle di film ini berperan sebagai Rika karakter antagonis yang menjadi kaki tangan Lee. 
Akting Julie Estelle di sini sangat bagus. Adegan action yang dilakukannya sangat halus. 
Sepertinya tidak ada kesulitan untuk Julie Estelle mengimbangi gerakan Iko saat adegan action yang mereka lakukan.

Karakter Ailin di sini adalah karakter yang protagonis. Ia adalah seorang dokter muda yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam kekerasan. Perkenalannya dengan Abdi/Ishmael membuatnya terpaksa melakukan pembunuhan.

The Mo Brothers berhasil mengarahkan film ini. Menurut mereka Headshot versi internasional berbeda dengan yang diputar di bioskop di Indonesia.
Pada versi yang diputar di luar tidak ada unsur dramanya
 
- Majalah Rolling Stone -


Darah-darah yang dipertotonkan di film ini juga terlihat nyata. Saya tidak berhenti bergidik ngeri ketika adegan demi adegan kekerasan dipertotonkan di film ini. 

Akting Zack Lee dan Ganindra Bimo juga sangat meyakinkan. Apalagi Bimo sebagai penjahat yang terkesan rapuh. 
Selain Iko Uwais, Sunny Pang adalah nyawa dalam film ini. Pada adegan action Sunny Pang dan Iko Uwais terlihat cantik. Dengan ciri khas Iko yaitu seni bela diri pencak silat. Koreografi pada film ini juga bagus. Saya dapat menyaksikan bahwa adegan aksi yang dibuat seperti nyata tidak lebay dan dibuat-buat.

Fokus dengan adegan bunuh-bunuhan dan action saya jadi tidak memperhatikan bloopers dalam film ini. 
Logika yang tidak nyambung di film ini seperti Iko Uwais yang tidak mati-mati meskipun sudah beberapa kali terpojok dan ditusuk berulang kali dapat dimaafkan karena pada kebanyakan film aksi karakter utama selalu menang dan akan hidup sampai akhir serti Die Hard (Bruce Willis) dan Taken (Liam Neeson)

Pada akhirnya cerita Headshot memang mudah ditebak. Seorang penjahat taubat yang menyelamatkan pacarnya dari gangster yang menginkan dirinya.

Film ini saya beri nilai 8/10

Comments

  1. Penasaran film ini tapi takut juga kalau brutal hihi pengen liat iko perut roti sobek :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkw roti sobek mbak Dewi bisa ajaa..filmnyaa penuh kekerasan mbak bikin ngeri

      Delete
  2. Beberapa film Iko Uwais yang saya lihat seperti "Merantau", "The Raid" atau "Brandal" memang kadang sulit masuk dalam logika.

    Tapi menurut saya, sajian utamanya memang bukan dalam logika cerita tersebut. Melainkan pada adegan "silat"-nya, atraksi-atraksinya.

    Seperti yang saya rasakan ketika melihat film-film Jackie Chan, yang sampai sekarang kadang masih sulit saya pahami ceritanya. Tapi itulah, suguhan utamanya adalah pada atraksi dan kungfu Jackie Chan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, sama seperti menonton film Taken (Liam Nesson) atau Die Hard. Logika cerita bukan hal yang diutamakan.

      Delete

Post a Comment