Review Film : Wonderful Life (2016)


Film ini bercerita tentang Aqil diperankan oleh Sinyo. Aqil sudah berumur 8 tahun namun belum bisa membaca dan menulis, yang dilakukan olehnya hanyalah menggambar. Ternyata anak ini memiliki disleksia dan autis ringan.

Amalia, sebagai ibunya diperankan oleh Atiqah Hasiholan merasa khawatir bahwa anaknya mengalami gangguan pada otaknya sehingga berusaha keras mencari pengobatan untuk membuat Aqil bisa normal seperti anak-anak lainnya.

Latar belakang dalam film ini adalah Jakarta tahun 2015/2016 yang ditunjukkan oleh mobil, dan gadget yang dipakai oleh Amalia.

Setelah mengetahui anaknya tidak tumbuh dengan 'normal' Amalia membawa Aqil ke segala tempat untuk menerima pengobatan. Dari mulai psikolog, pengobatan herbal, sampai ke dukun. 

Agak tidak masuk akal bagi saya melihat latar belakang cerita di film ini adalah tahun 2015/2016 yang sudah sangat terbuka dengan informasi, tetapi Amalia masih ke dukun untuk mengobati anaknya yang memiliki diseleksia dan autis ringan. 

Menurut saya ada banyak informasi tentang kedua hal tersebut di internet. Selain itu ada adegan yang menunjukkan Amalia berkonsultasi dengan psikolog, seharusnya jika Amalia memang wanita karir yang menjadi bintang di perusahaannya, ia tidak akan berpikir untuk mencari pengobatan alternatif karena disleksia bukan penyakit.

Perjalanan yang dilakukan oleh Amalia dan Aqil dalam mencari obat mungkin ditujukan untuk mempertegas kedekatan mereka. 
Setelah perjalanan mencari dukun dan tersesat, Amalia akhirnya sadar bahwa tidak ada yang salah dengan anaknya. Ia pun mau menerima Aqil apa adanya dan membebaskan Aqil untuk terus mengambar.

Adegan perjalanan tidak terlalu menunjukkan konflik batin Amalia dan Aqil. Meskipun pada akhirnya perjalanan tersebut yang membuat Amalia menyadari kesalahannya.

Atiqah Hasiholan memiliki kualitas akting yang bagus di film ini. Berperan sebagai single parent yang memilik anak dengan kebutuhan khusus dan memiliki Bapak yang selalu memojokkannya dapat diperankan dengan baik. 

Lydia Kandou adalah pemeran pendukung wanita yang aktingnya sangat maksimal di film ini. Meskipun hanya mendapat sedikit adegan dalam film tidak mengurangi kualitas aktingnya yang sangat baik.

Sinyo sebagai Aqil sayangnya tidak terlalu berkesan untuk saya. Membandingkan aktingnya dengan Darsheel Safary sebagai Ishaan yang memiliki disleksia di film Like Stars on Earth (2007) menurut saya akting Aqil belum bisa membawa penonton dalam emosi. 

Film ini melakukan pengambilan gambar dengan baik. Beberapa footage yang diambil saat Amalia dan Aqil di hutan memiliki detail yang memanjakan mata.

Secara keseluruhan menurut saya film ini tidak berhasil membawa emosi penonton. Cerita yang seharusnya mendapat empati penonton justru dikemas dengan banyak adegan lucu. 

Diangkat dari kehidupan nyata, sehingga mungkin ada perbedaan waktu antara kejadian aslinya dengan setting di film. Seharusnya hal tersebut dapat disesuaikan. 
Mungkin saja memang pada kejadian sebenarnya informasi belum seterbuka sekarang sehingga Amalia akan mengusahakan terapi pada Aqil dengan cara yang lebih relevan.
"Karena semua anak terlahir sempurna"
Terasa dipaksakan untuk menuju ke pesan tersebut sehingga beberapa hal tidak diperhatikan seperti tidak ada adegan yang menunjukkan hubungan emosi antara Aqil dan ayahnya (koreksi saya jika adegan tersebut berada di awal film)

Akhir yang bahagia tentu itu yang penonton suka. Tentunya film ini memiliki akhir yang membuat penonton tersenyum. Aqil dan Amalia hidup berdua dan bahagia.

Comments