Review Film : Athirah(2016) 'Pengorbanan wanita demi keluarga'


Jumat 30 September kemarin saya nonton film ini. Di bioskop film ini sepi penonton, untuk jam pertama cuma ada saya sendiri. Ternyata saat masuk bukan cuma saya, ada dua orang lainnya yang juga nonton.
Jadi satu studio cuma kami bertiga yang menonton film karya Sutradara Riri Riza tersebut. Padahal bioskop saat itu cukup ramai, mungkin mereka menonton film Warkop DKI Jangkrik Bos Part 1.

Bagi penggemar film dengan genre drama, film ini tentunya menjadi film yang seru sekali untuk ditonton. Tapi, bagi yang lebih suka film action atau comedy tentu akan terasa membosankan. Film ini sangat minim dialog. Semua dijelaskan dengan adegan. Yap, penegasan cerita dibuat dengan adegan; ekspresi pemain, setting waktu, dan tempat.

Saya senang sekali menonton film ini karena terasa sangat berkelas. Riri Riza seperti telah kembali. Saya tidak merasakan ini ketika menonton AADC2. Film ini agak terasa seperti Laskar Pelangi. Tidak banyak dialog namun penonton dapat merasakan pesan dan perasaan yang ingin disampaikan oleh film ini.

Musik yang ditambahkan dalam adegan juga terasa pas tidak lebay. Musik biasanya ditambahkan untuk penegasan adegan, seperti suasana yang sedih, bahagia, atau marah.

Akting Cut Mini tentunya tidak perlu diragukan, berperan sebagai ibu dari Jusuf Kalla juga dapat diperankan dengan baik. Sepertinya tidak sulit bagi Cut Mini untuk berakting di film seperti ini. Mengingat aktingnya sangat bagus sebagai Bu Muslimah di Laskar Pelangi(2008)
Menjadi seorang wanita yang dimadu oleh suaminya pun diperankan dengan cemerlang. Cut Mini mampu menggambarkan perasaan seorang wanita yang terluka karena diduakan suami yang dicintai sekaligus memberikan kita sosok seorang wanita yang kuat dan mandiri tanpa suami.

Christoffer Nelwan yang berperan sebagai Jusuf Kalla remaja dapat menarik perhatian. Aktingnya bagus dalam memerankan seorang anak yang terlahir di keluarga yang berkecukupan namun harus menerima bahwa Ayah yang dibanggakannya ternyata memiliki isteri lain. Sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga tentunya sudah seharusnya ia menjaga Ibunya, tapi ia juga tidak membenci Ayahnya dan tetap hormat. Christoffer Nelwan dapat menggambarkan Ucu remaja yang memiliki kemapanan finansial namun ada kegelisahan tentang orang tuanya, dan sebagai remaja ia juga masih bisa merasakan cinta terhadap lawan jenis.

Mungkin ini adalah karakter antagonis di film ini, Puang Haji Kalla atau Ayahnya Jusuf Kalla yang diperankan oleh Arman Dewarti. Pemilihan Arman sebagai pemeran Haji Kalla saya rasa pas, sayangnya ketika waktu berlalu dan seharusnya Puang Haji Kalla terlihat lebih tua, wajah Arman Dewarti tidak berubah, tidak ada make up untuk menambahkan efek bertambahnya umur. Mungkin agar tidak terlihat lebay sehingga ingin dibuat senatural mungkin ya.

Salman Aristo sebagai penulis skenario menurut saya memang telah banyak melahirkan skenario bagus. Bekerja sama dengan Riri Riza bukan kali pertamanya. Sebelumnya Laskar Pelangi juga menjadi film yang sukses di bioskop. Sayangnya film ini sepertinya tidak terlalu menarik masyarakat karena tipikal penonton Indonesia yang saya amati adalah nonton karena sedang hype bukan melihat cerita.

Hadirnya Tika Bravani di akhir cerita menurut saya tidak berpengaruh banyak dalam film ini. Porsi peran yang sedikit cukup untuk menunjukkan kemampuan aktingnya namun tidak terlalu berkesan.
Nino Prabowo sebagai Jusuf Kalla dewasa memberikan kesan bahwa karakter Ucu sudah berubah. Dari Ucu remaja yang pendiam menjadi Ucu yang lebih ramah. Saya nggak tahu apakah memang setelah keadaan keluarganya membaik Ucu menjadi lebih periang atau akting Nino Prabowo yang tidak pas.

Adanya product placement dari BNI menurut saya dilakukan dengan sangat halus bahkan saya sampai tidak menyadari bahwa itu adalah sponsor. Ketika melihat credit title barulah saya tahu bahwa BNI sebagai sponsor film ini.

Secara keseluruhan saya suka film ini. Pelajaran yang dapat diambil dari film ini sebagai seorang wanita harus bisa mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Athirah yang awalnya kalah karena dimadu namun kemudian mendapat kemenangannya sendiri ketika anak-anaknya berhasil dan ia tidak kehilangan keluarganya. 

Comments

  1. Mampir juga ya ka kinan di nyawakentang.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  2. Mampir juga ya ka kinan di nyawakentang.blogspot.co.id

    ReplyDelete

Post a Comment