Review film: Koala Kumal (2016)


Film ini diambil dari judul novel yang sama karangan Raditya Dika yaitu Koala Kumal.   Menceritakan tentang Dika (Raditya Dika) yang patah hati karena ditinggalkan oleh Andrea (Acha Septriasa) disaat mereka sudah siap untuk menikah.
Dika yang digambarkan sebagai sosok lelaki "bucin" (budak cinta) yang selalu memberikan apa yang diinginkan oleh pacarnya ternyata ditinggalkan untuk seseorang yang lebih tampan dan mapan dari dirinya. Kisah klasik hubungan pria dan wanita zaman sekarang.
Pertemuannya dengan Trisna(Sheryl) membuat Dika sadar tentang arti patah hati dan bagaimana harusnya ia bersikap mengatasi patah hati tersebut.

Raditya Dika disini berperan sebagai sutradara sekaligus pemain. Banyak artis Indonesia sekaligus Youtuber yang terlibat di film ini. Deretan nama besar seperti Cut Mini, Dede Yusuf, Acha Septriasa dan Nino Fernandez membuat film ini semakin 'bertabur bintang'

Untuk debut pertamanya bermain film, menurut saya akting Sheryl cukup baik. Membawakan peran cewek yang masih patah hati dan trauma dalam berhubungan. Sheryl mampu menampilkan karakter Trisna dengan baik.
Jika kita sering melihat Acha bermain sebagai karakter yang baik hati, di film ini mungkin penonton harus bisa menerima ia berperan sebagai cewek nyebelin dan menurut saya Acha berhasil memerankan karakter ini dan melepaskan karakter protagonisnya.

Apa yang saya suka dari film ini?

Saya suka cerita sederhana di film ini dapat dieksekusi dengan baik. Plot yang sederhana namun diperkuat dengan dialog yang bagus. Sepertinya film komedi sulit untuk menyampaikan pesan, tetapi harus membuat orang tertawa. Di film ini keduanya dapat disampaikan dengan baik. Unsur komedi tidak terlepas dan masih bisa membuat penonton tertawa, dan background cerita patah hati juga bisa bikin penonton baper kok.
Saya suka Raditya Dika tidak memaksakan cerita dan akhir dari film ini dibuat open ending sehingga membuat penonton dapat memutuskan sendiri bagaimana akhir yang diingkan oleh masing-masing penonton.

Meskipun kemunculan Dede Yusuf dan Cut Mini sebagai orang tua Dika hanya sebentar, tetapi saya dapat melihat chemistry antara keduanya sebagai suami isteri dan sebagai orang tua.


Apa yang menurut saya kurang?

Menurut Raditya Dika film ini memenuhi proses pewarnaan gambar atau grading di Bangkok. Tetapi saya tidak bisa menangkap pewarnaan yang berbeda dalam film ini. ketika saya menonton film Kemal yang berjudul Takeshi Abdullah, saya bisa merasakan perbedaan gambar di film tersebut yang memiliki kualitas yang baik dan itu tidak saya lihat di film ini.

Saya merasa seperti menonton film komedi Thailand ketika menonton film ini. Kalian mungkin sudah pernah menonton Seven Something, ATM Error, atau Little thing called love. Sederetan film komedi romantis tersebut menurut saya memiliki ciri khas film komedi Thailand. Entah kenapa ketika menonton film Koala Kumal saya merasa ambience tersebut.


Secara keseluruhan
menurut saya film ini perlu ditonton oleh orang yang baru patah hati, sedang patah hati, atau yang bersiap-siap mau patah hati. Pesan yang disampaikan oleh film ini tentang patah hati cukup mengena.
Meskipun kadang ada humor yang receh, tetap dapat membuat penonton merasakan kelucuannya dan tertawa.
Akting pemain-pemain yang sangat baik dalam memerankan karakter mereka di film ini.
Film ini dapat menjadi penyegar kejenuhan film Indonesia lainnya yang mungkin lebih serius.
Jadi saya merekomendasikan untuk menonton film ini. Dan, meskipun film ini adalah film tentang patah hati, tetap cocok ditonton oleh kalian yang punya pasangan kok.

Selamat menonton.

Comments

  1. biasa aja kan filmnya tapi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya biasa aja mungkin kalo dibandingkan sama film Janji Joni, tapi kalo dibandingkan sama film takeshi abdullah, lebih bagus film ini.

      Delete
  2. Replies
    1. wahh aku belum baca bukunya. tapi filmnya juga lucu kok.

      Delete
  3. Sad ending buat Trisna, happy ending buat Dika..
    kualitas cerita tidak lebih baik dari karya-karya Dika sebelumnya..

    Review Film Koala Kumal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mungkin karena film-film Dika memang segmentasinya untuk remaja

      Delete

Post a Comment